widget
http://www.antonhariyanto.co.co. Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label MOTIVATION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVATION. Tampilkan semua postingan

Nick Vujicic : NO ARMS - NO LEGS - NO WORRIES

Inilah cerita dari seorang pria tampan dan cerdas, serta bersuara indah, yang dilahirkan tanpa kedua lengan dan kedua kaki. Namun ia tetap bersemangat dan bahagia dalam menjalani hidupnya. Ia jago main golf, berselancar, dan berenang. Terlebih, ia juga sukses dalam karirnya. Nick Vujicic (26 tahun), pria Serbia kelahiran Australia itu, memang luar biasa!!


Nick lahir di sebuah rumah sakit di Kota Melbourne pada tanggal 4 Desember 1982. Orangtuanya sangat terkejut ketika melihat keadaan putra mereka yang lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Menurut dokter yang menanganginya, Nick terkena penyakit Tetra-amelia yang sangat langka. Kondisi ini kontan membuat ayah Nick (seorang pemuka agama dan programmer komputer) dan ibu Nick (seorang perawat) bertanya-tanya dalam hati, kesalahan besar apa yang telah mereka perbuat hingga putranya terlahir tanpa anggota-anggota tubuh. Tak jarang, mereka menyalahkan diri sendiri atas keadaan Nick.


Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Ayah dan ibu Nick melihat putranya, biarpun cacat tubuh, tetap tumbuh kuat, sehat, dan ceria - sama seperti anak-anak lainnya. Dan, Nick kecil terlihat begitu tampan serta menggemaskan! Matanya pun sangat indah dan menawan. Maka, mereka mulai bisa menerima keadaan putranya, mensyukuri keberadaannya, dan segera mengajarinya untuk hidup mandiri. 


Nick memiliki sebuah telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya. Sang ayah membimbingnya untuk berdiri, menyeimbangkan tubuh, dan berenang sejak Nick berusia 18 bulan. Kemudian, dengan tekun dan sabar, sejak usia 6 tahun, Nick belajar menggunakan jari-jari kakinya untuk menulis, mengambil barang, dan mengetik. Kini, Nick menyebut telapak kakinya yang berharga itu sebagai "my chicken drumstick."

Agar bisa hidup lebih mandiri, kuat secara mental, dan bisa bergaul dengan luwes, ibu Nick memasukkan putranya ke sekolah biasa. Segera saja, Nick menyadari bahwa keadaannya sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia juga mengalami berbagai penolakan, ejekan, dan gertakan dari teman-teman sekolahnya. Hal ini membuatnya merasa begitu sedih dan putus asa. Pada usia 8 tahun, Nick sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun, kasih dan dukungan orangtuanya, serta hiburan dari para sahabatnya, mampu membuat Nick mengenyahkan pikiran tersebut. Ia menjadi lebih bijaksana dan berani dalam menjalani kehidupan.

Pada suatu pagi, saat usia 12 tahun, Nick mendapat pengalaman tak terlupakan. Saat bangun dan membuka matanya, tiba-tiba saja ia menyadari betapa beruntungnya dirinya. Ia sehat, serta punya keluarga dan para sahabat yang menyayanginya. Ia juga hidup dalam keluarga yang berkecukupan.


Setahun kemudian, ketika membaca surat kabar, Nick dan ibunya menemukan sebuah artikel yang sangat menggugah jiwanya. Artikel itu, berkisah tentang seorang pria cacat tubuh yang mampu melakukan hal-hal hebat, termasuk menolong banyak orang. "Pada saat itulah, saya menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan kita untuk berguna bagi orang lain. Saya memutuskan untuk bersyukur, bukannya marah, atas keadaan diri sendiri! Saya juga berharap, suatu saat bisa menjadi seperti pria luar biasa itu-yakni bisa menolong dan menginspirasi banyak orang!" demikian ujar Nick, dalam sebuah wawancara.

Untuk meraih mimpinya, Nick belajar dengan giat. Otak yang encer, membantunya untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan pada usia 21 tahun. Segera setelah itu, ia mengembangkan lembaga non-profit Life Without Limbs' (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh), yang didirikannya, pada usia 17 tahun, untuk membantunya berkarya dalam bidang motivasi.

Kini, Nick Vujicic adalah motivator/pembicara internasional yang gilang-gemilang. Ia sudah berkeliling ke lebih dari 24 negara di empat benua (termasuk Indonesia), untuk memotivasi lebih dari 2 juta orang-khususnya kaum muda. Berkali-kali, ia diwawancarai oleh stasiun televisi dengan jangkauan internasional, seperti ABC (pada 28 Maret 2008). Produknya yang terkenal adalah DVD motivasi "Life's Greater Purpose", "No Arms, No Legs, No Worries", serta film "The Butterfly Circus."

"Saya telah memberikan berbagai jenis motivasi kepada orang-orang, berdasarkan pengalaman hidup saya," pungkas Nick di akhir wawancara. "Namun, ada satu hal yang selalu saya katakan pada mereka: �Terimalah dan cintai diri kamu sendiri.' Jika satu orang saja bisa melakukannya, kemudian merasa lebih bersemangat dalam menjalani hidup serta ingin berguna bagi orang lain, saya merasa bahwa sebagian tugas saya di dunia ini telah terselesaikan."

SEMAKIN TAU SEMAKIN TAKUT

Saat bingung mau ngapain saat liburan, ehh di koran nongol iklan jalan-jalan akhir tahun ke Kuala Lumpur (KL), Genting Highland dan Malaka. Daripada bengong di rumah, saya ajak aja istri untuk bulan madu (entah keberapa). “Yuk!”, dia menyaut.
 
Perjalanan itu sungguh membuat saya takjub, bagaimana pariwisata menjadi pemasok devisa yang besar bagi negara kecil tersebut. Jangan bandingkan dengan Indonesia tentang kekayaan wisatanya. Negeri kita…., jaauuuh lebih kaya dan cantik dari mereka. 
 Hanya saja, kita tertidur, sedangkan mereka sudah terbang. Yang mereka sebut-sebut sebagai ‘Caves’, tak lebih cantik dibanding Ngarai Sianok di Bukit Tinggi. Pemandangan sekitar Genting Highland, tak lebih apik dibanding Puncak – Bogor. Tapi mengapa setiap sudut dari Genting bisa menghasilkan uang. 
Mungkin anda akan menjawab karena adanya casino disana. Menurut saya bukan. Buktinya, mayoritas dari pelancong, justru tidak pernah menginjakkan kaki ke ruang casino, termasuk saya. Namun wisata belanja dan permainannya yang mirip miniatur Dufan – Ancol, cukup membuat kaki kita pegel menapakinya.

Rombongan kita sempat singgah di Duty Free Shop, yang terletak di kawasan pergudangan di daerah KL, yang jauh dari keramaian. Tempat itu benar-benar tidak seperti showroom jam dan cendera mata untuk turis. Harganyapun jauh lebih mahal dibanding dengan Batam. Tapi kenapa ramai dan laris? Turislah pembelinya. 
Sempat juga kita terhenti ke pusat penjualan coklat, ya, permen coklat, yang harganya terbilang mahal, tapi laku keras juga bak kacang goreng. Pernah saya lontarkan ide tentang membuka toko turis ini di kelas pengusaha di Bali, seperti halnya ‘toko Erlangga’, ehh kebanyakan mengatakan,”Turis sekarang pinter-pinter Pak, mereka tahu beli dimana yang murah”. Inilah yang disebut ‘BANYAK TAHU, BANYAK TAKUT’. 
Mereka berfikir para turis tahu tempat yang murah, seperti halnya mereka. Padahal, prosentasi yang tidak tahu dan ‘pasrah’ terhadap tour guide lebih banyak. Dan perlu diingat, banyak dari para pelancong yang tidak price sensitive, alias “bayar aja deh…!”
 
Masih nggak percaya kalo tempat terpencil tindak menjadi masalah? Coba datangi tempat-tempat berikut ini, Molen Kartikasari – Bandung, yang tempatnya di gang sempit seukuran satu mobil; Brownis Amanda – Bandung; Bolu Meranti – Medan; Moaci Gemini – Semarang; Pedesan Pepaya Teluk Betung – Lampung; dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda berfikir bahwa mereka sudah lama berdiri, namun sebenarnya itu semua bisa diciptakan secara instan dengan pola kerjasama bersama tour & travel. 
 
Ingat, mayoritas pendatang di suatu kota, baik untuk urusan wisata atau bisnis, mereka akan menanyakan,”Apa oleh-oleh khas sini?”. Jangan takut, masih banyak yang tidak tahu!

Oleh:
Jaya Setiabudi

TERIMALAH AKU SATU PAKET

Beberapa tahun yang lalu, Indonesia memilki idola dari segala idola. Hampir semua golongan dan bahkan lintas agama mengagungkannya. Pamornya melebihi presiden ataupun bintang film paling terkenal sekalipun. Kharismanya saat berbicara membuat para jendralpun ‘segan’ saat berdampingan dengannya. Siapa lagi jika bukan KH Abdullah Gymnastiar, atau lebih beken dengan sebutan Aa Gym. 
 
Saya pernah diminta menjadi MC dadakan, pada acara ‘wejangan’ untuk para pengusaha di bawah bendera HIPMI Batam. Tak seperti biasanya yang lancar berbicara di depan umum, kali itu keluar keringat dingin saya. Spontan saya berucap,”Ntah kenapa saya merasa seperti seekor monyet yang penuh dosa dihadapan Aa (panggilan Aa Gym) yang begitu mulia. Seolah mata Aa menelanjangi aib-aib saya.” Aa-pun tersenyum dan hanya mengucap,”Masa’ sih?!”
 
Tak berapa lama kemudian, ada sebuah berita tentang ‘penambahan’ statusnya sebagai seorang suami. Meski beliau tidak melakukan suatu ‘kesalahan’ secara hukum agamanya, namun beliau melakukan sesuatu yang tidak ‘disukai’ oleh kebanyakan orang, apalagi kaum hawa. Tak lama berselang, mayoritas umatnya mulai meninggalkannya. Anehnya, meski kata-kata dalam dakwahnya sama dan baik, namun mayoritas orang tidak lagi mempedulikannya? Mengapa? Karena mereka kecewa. Sosok Aa Gym dianggap telah ‘menodai’ keagungan seorang figur masyarakat. Darimana datangnya kekecewaan itu?
 
Sebelum Aa Gym berpoligami, beliau memiliki ‘harapan peran’ sebagai seorang yang dianggap ‘suci’ oleh masyarakat. Namun masyarakat tidak sadar bahwa Aa Gym bukanlah malaikat. Mereka tidak mencari tahu apa sesungguhnya alasan Aa berbuat seperti itu? Tapi mereka telanjur menghakimi berdasarkan prasangka mereka. Apalagi mendapat dukungan kaum oportunis, juga media masa yang memancing di air keruh.
 
Sudah menjadi sifat dasar manusia memandang seorang publik figur seolah malaikat. Mereka menilai orangnya, bukan hikmah yang diajarkannya. Bagaimana dengan orang tua atau anak Anda? Apakah Anda masih menghargai dan menerima mereka, meski ‘menurut kita’, mereka berbuat nista? Mengapa tidak kita anggap seolah saudara kita? Ingat, benar menurut siapa, salah menurut siapa?

“Terimalah aku satu paket, bukan hanya sisi baiknya, namun sisi kurangnya juga. Aku hanyalah manusia, bukan makhluk tanpa dosa. Aku belajar dengan waktu bahwa manusia berubah dengan waktu dan kejadian-kejadian. Aku belajar dengan pengalaman, ternyata banyak prasangkaku yang keliru. Aku belajar dengan waktu, untuk memahami, bukan menghakimi.”


Penulis:
Jaya Setiabudi

Bob Williamson: Hampir Bunuh Diri Tapi Memilih Bangkit

Sukses bisnis kadang diraih melalui kombinasi antara kerja keras dan keberuntungan yang tampak sederhana. Salah satu yang mendapatkannya adalah Bob Williamson.Bob memang beruntung dan menjadi pengusaha hampir karena kecelakaan. Tapi sebenarnya ia berhasil karena memiliki semangat kuat untuk memperbaiki nasibnya yang salah arah di waktu muda.
 
Bob lahir dari seorang ayah tentara. Sejak kecil selalu berpindah-pindah tempat tinggal, begitupun sekolahnya. Karena sering pindah ia hampir tak punya sahabat. Selain itu jiwanya juga labil. Tukang bikin onar di sekolah atau di luar sekolah, suka berkelahi, dan sebagainya. Lalu godaan terjerumus ke dunia gelap tak bisa ditolak. Sejak remaja ia sudah jadi pemabuk dan pecandu narkoba.

Pada usia 19 tahun, Bob menikah dan usia 20 tahun bercerai. Ia memiliki anak. Ketika ingin menengok anaknya, mantan istrinya malah melaporkannya ke polisi yang membuatnya dipenjara. Kehidupannya makin buruk karena sekeluar dari penjara, ia kembali ke kebiasaan semula. Bahkan ia beberapa kali overdosis yang hampir merengut nyawanya.
Namun kehidupan buruk itu sering disesalinya. Ia merasa, jika terus-terusan seperti itu masa depannya akan hancur. Maka, pada saat usianya 24 tahun, ia pergi ke Atlanta untuk menata hidup baru. Sayangnya ia tak mudah mendapatkan pekerjaan.Bahkan ia sudah putus asa. “Saya bisa saja bunuh diri,” ujarnya.

Akhirnya ia mencoba menahan diri untuk tak jadi pecandu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mendapatkan pekerjaan sebagai pembersih batu bata bekas yang akan dijual lagi oleh pemilik usaha itu. Upahnya US$ 15 sehari; cukup untuk menyewa tempat tinggal dan bisa makan. Ia kemudian bahkan bisa menabung.

Suatu kali, ia bisa membeli mobil. Namun baru beberapa hari mengendarainya ia mengalami kecelakaan hebat yang hampir membuatnya tewas. Ia dirawat untuk beberapa waktu. Selama dirawat ia rajin membaca kitab suci. Dari sana, pelan-pelan semangat hidupnya tumbuh. Apalagi ia kemudian bertemu dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya, yang membuatnya makin terdorong untuk memperbaiki hidupnya.

Sekeluar dari rumah sakit, ia diterima di perusahaan cat Glidden sebagai tukang tempel label pada kaleng cat dan bekerja sehari penuh di basement yang mirip goa. Meski begitu ia menerimanya dengan sabar. Tekadnya untuk memperbaiki nasib sudah bulat. Sambil bekerja, dengan tekun ia juga banyak belajar dari ahli cat di perusahaan itu. Sikapnya yang baik membuat prestasi kerjanya juga baik dan beberapa kali mendapatkan promosi. “Dalam waktu dua tahun (di Glidden) saya mendapatkan promosi sebanyak delapan kali,” ujarnya.

Setelah dua tahun di Glidden, ia pindah ke dua perusahaan cat lain. Lalu ia menemukan sesuatu, bahwa para artis wildlife (pelukis yang menggambar kehidupan alam liar, hobi yang juga ia tekuni) umumnya menggunakan cat mobil untuk mendapatkan hasil lukisan yang sempurna. Tetapi itu tentu saja mahal. Bob kemudian terpikirkan untuk membuat cat lukis baru bagi mereka yaitu jenis airbrush. Karena itu, selama dua tahun, ia berkutat di rumahnya untuk membuat ramuan catnya. Tak lama, catnya jadi. Untuk memperkenalkannya ia ikut pameran dengan menyewa stan/booth sendiri. Ia juga beri nama perusahaannya sebagai Polytranspar. Ternyata banyak pelukis yang ingin membeli catnya. Selanjutnya, ia keliling Amerika untuk menawarkan cat produksinya ke berbagai pelukis. Lalu, ia berhenti dari tempatnya bekerja agar bisa konsentrasi mengembangkan bisnis sendiri. 

Pada tahun 1977, Bob mendirikan perusahaan cat Master Paint System. Sejak itulah bisnisnya menggelinding, makin lama makin besar dan makin banyak.Karena bisnisnya makin banyak, Bob mulai kebingungan mengelolanya. Pada awal 1980-an, ia mencoba membuat sistem pengelolaan bisnisnya mulai dari pengelolaan gudang, inventori barang, supply chain management dan sebagainya.

Bob ternyata jeli. Setelah para programernya membuat software manajemen untuk usahanya, ia juga menawarkan jasa pembuatan software sejenis pada banyak perusahaan. Dari sinilah ia mengembangkan bisnis software-nya. Meski sempat hampir bangkrut, Bob berhasil mengembangkan Horizon Software menjadi salah satu perusahaan software besar di Amerika sengan spesialisasi software pengelolaan kafetaria sekolah, barak-barak militer, rumah sakit, perguruan tinggi, dan sebagainya. Saat didirikan tahun 1992, Horizon baru mempekerjakanempat orang programmer. Sekarang perusahaan ini sudah memiliki hampir 180 karyawan. Omsetnya mencapai US$ 30 juta setahun atau sekitar Rp 270 miliar!

Jika dulu menuruti rasa putus asa ketika menghadapi kesulitan, mungkin Bob Williamson malah sudah tiada karena bunuh diri. Tetapi ia memilih bangkit dan bisa meraih kesuksesan besar! Luar Biasa!!

VISUALISASIKAN IMPIAN ANDA !

Sama sekali tudak ada niat saya untuk menggurui saat membuat tulisan ini,
semata-mata hanya ingin berbagi semoga memberi inspirasi dan manfaat.

Suatu hari di akhir Januari tahun 2000, keluarga kami mendapatkan musibah yang bagi keluarga kami sangat besar dan memukul mental.
sekitar tengah hari, sekitar 50 rumah hangus terbakar di sebuah desa di area danau Ranau, termasuk di dalamnya 2 buah rumah milik orang tua saya yang kebetulan letaknya berhadap2an.

Saya tidak akan menceritakan kesedihan dalam cerita ini

Saya memberi tahu anda bahwa sampai sekarang pun masih sulit saya percaya, betapa beberapa visual  rumah toko (ruko) 2 lantai yang saya gambar 1 minggu setelah kejadian akhirnya bisa terealisasi sekitar 10 bulan kemudian.

Asuransi?
Mungkin rekan2 akan berpikir demikian, karena dijaman ini rasanya segalanya bisa lebih mudah, 
tapi untuk daerah yang masih sangat jau dari jangkauan pemadam kebakaran dan rumah padat penduduk yang rata-rata masih terbuat dari kayu, tidak ada perusahaan asuransi yang mau meng-cover.
Modal yang dimiliki orang tua pun sudah hampir habis,  yang tersisa hanyalah 1 buah mobil Kijang standard yang dijual dengan harga bersih senilai 48 juta, itulah yang akhirnya dipakai untuk membangun ulang sebuah kios dan modal dagangan. 

Setelah itu, saya mulai mem-visualisasikan impian-impian saya melalui gambar-gambar (cukup sketsa ringan) untuk beberapa rencana bisnis saya, kemudian menempelnya di papan rencana (planning board) yang memang sudah saya siapkan di kamar tidur saya (karena saat itu saya masih lajang)
Beberapa diantaranya benar-benar terwujud mirip dengan sketsa gambar bisnis yang saya visualisasikan.

Mulai sekarang, 
"Biasakan diri anda untuk benar-benar menggambarkan impian anda untuk kemudian terpacu mewujudkannya".





SAY YES TO GAMBARU!

Memang agak panjang, tapi baik sekali untuk dibaca.
Ditulis oleh seorang mahasiswi yang tinggal Jepang:------------ --------- ---------

Terus terang aja, satu kata yang bener-bener bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.
Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu :
motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) , motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih lagi).

Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.
Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang-berjuang cemen gitu-gitu aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja.

Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)
Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan "mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah "mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu"
(maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang-orang jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.
Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis-tipis biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit-sakit dikit cuma ingus meler-meler atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.
Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos-ngosan kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).
Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it's a must!

Gw bener-bener baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis-nangis, ga tau mesti ngapain.
Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.
Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini?
Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu-tungguin. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV.
Jadi yang ada apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :
1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana
4. Tips-tips menghadapi bencana alam
5. Nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana
7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)
8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
*ada yang nyari istrinya, belum ketemu-ketemu, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek-nenek yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang.
Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu.
Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup.

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan.
Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang-bilang ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang... ..

I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju.

Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup.
Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya  : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau.
Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini.
Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya.

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang.
Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya.
Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu.

Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang.

Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.

Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati :
Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu.


(Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

Say YES to GAMBARU!

aku percaya

Disaat jatuhlah kita lebih dekat dengan tanah
disaat susah kita menjadi sadar bahwa senang itu pernah
disaat terlempar kita baru tersadar
disaat gelap kita baru tau nikmatnya terang

pada saat bermimpi pun ngeri
disaat berharap pun tidak berani
diwaktu mendongak pun tidak tegap
saat itulah kita semakin tau
bahwa kita bukan siapa
kalau kita adalah hanya

sekarang adalah sekarang
sekarang belum tentu besok
besok belum tentu lusa
cuma kita yang bisa
merubah segala
Tuhan selalu bersama
umatnya yang berusaha

Ciptaan Tuhan 2009

Aku Sekarang Sudah Memiliki Anak

Terimakasih Allah Yang MAha dari segala Maha, telah menitipkan kepada kami seorang insan mungil yang lucu yang merupakan amanat dan tanggung jawab bagi kami untuk mendidik, membimbing dan membesarkannya dengan sebaik-baiknya.

Memelihara Impian

Impian seseorang tidak dapat dipertahankan karena kurang kuatnya sistem keyakinan sehingga mudah goyah. Untuk dapat meyakini akan impian anda, lakukan sugesti sesering mungkin dan jangan pernah biarkan pikiran negatif datang merasuki pikiran anda. Lakukan sugesti dan visualisasi sampai emosi bahagia terpancar pada hati anda seolah - olah impian itu sudah ada di tangan anda. Pada awal anda melakukan ini, anda akan berpikir dalam hati kecil anda : "ah ini hanya suatu kebohongan, toh yang saya impikan belum ada di tangan saya sekarang". Pikiran negatif seperti itu wajar muncul jika pikiran positif anda belum menjadi pikiran mayoritas anda.

Jadi yang perlu anda lakukan agar pikiran anda hanya bermayoritas dengan pikiran positif adalah dengan cara sugesti dan visualisasi impian anda terus menerus SETIAP HARI atau bahkan hampir SETIAP WAKTU.

Abaikan pikiran negatif yang selalu datang merasuki pikiran anda, karena harus selalu anda ingat kunci sugesti dan visualisasi yang baik adalah dengan melakukan pengulangan sesering mungkin. Dengan melakukan hal itu sesering mungkin, pikiran negatif yang tadinya selalu datang masuk ke pikiran anda suatu waktu akan mulai terkikis habis, karena pikiran bawah sadar anda sudah mulai terbiasa dengan sugesti dan visualisasi yang sering anda tanam.

Ketika pikiran anda mulai terbiasa dengan pikiran positif akan impian2 anda, secara lambat laun hal itu akan mengubah sistem kepercayaan / keyakinan anda pula menjadi lebih kuat, dan ketika sistem kepercayaan seseorang sangat kuat akan impiannya sendiri atau hal lain, maka ia akan terus dapat mempertahankan impiannya dan semangatnya tidak akan pernah padam, karena dirinya yakin bahwa impian yang ia inginkan akan benar2 tercapai dan terlihat nyata.

KUTIPAN DONALD TRUMP

Ada kutipan yang baru saja saya baca dari sebuah buku biografi seorang kampiun di bisnis properti.

Donal Trump,
kalau sampai anda belum pernah mendengar nama ini,... menurut saya alangkah bagusnya kalau anda mencari sebuah gedung tinggi dan kemudian loncat dari gedung tersebut....hahaha [tentu ini hanya sebuah intermezo..jangan di ambil hati]

"MATAHARI TIDAK BERSINAR SELAMANYA"

itulah kutipan yang ingin saya share dengan kalian,
singkat memang,... tapi sangat dalam maknanya dan sangat luas filosofinya
banyak pula cara penjabarannya....

Dari kacamata saya sendiri, saya menyimpulkan bahwa,... manfaatkanlah apa-apa yang bisa kita manfaatkan dari 'matahari'... ketika cahayanya masih menerangi kita..., jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari ketika sinarnya sudah tidak ada lagi.....