widget
http://www.antonhariyanto.co.co. Diberdayakan oleh Blogger.

TERIMALAH AKU SATU PAKET

Beberapa tahun yang lalu, Indonesia memilki idola dari segala idola. Hampir semua golongan dan bahkan lintas agama mengagungkannya. Pamornya melebihi presiden ataupun bintang film paling terkenal sekalipun. Kharismanya saat berbicara membuat para jendralpun ‘segan’ saat berdampingan dengannya. Siapa lagi jika bukan KH Abdullah Gymnastiar, atau lebih beken dengan sebutan Aa Gym. 
 
Saya pernah diminta menjadi MC dadakan, pada acara ‘wejangan’ untuk para pengusaha di bawah bendera HIPMI Batam. Tak seperti biasanya yang lancar berbicara di depan umum, kali itu keluar keringat dingin saya. Spontan saya berucap,”Ntah kenapa saya merasa seperti seekor monyet yang penuh dosa dihadapan Aa (panggilan Aa Gym) yang begitu mulia. Seolah mata Aa menelanjangi aib-aib saya.” Aa-pun tersenyum dan hanya mengucap,”Masa’ sih?!”
 
Tak berapa lama kemudian, ada sebuah berita tentang ‘penambahan’ statusnya sebagai seorang suami. Meski beliau tidak melakukan suatu ‘kesalahan’ secara hukum agamanya, namun beliau melakukan sesuatu yang tidak ‘disukai’ oleh kebanyakan orang, apalagi kaum hawa. Tak lama berselang, mayoritas umatnya mulai meninggalkannya. Anehnya, meski kata-kata dalam dakwahnya sama dan baik, namun mayoritas orang tidak lagi mempedulikannya? Mengapa? Karena mereka kecewa. Sosok Aa Gym dianggap telah ‘menodai’ keagungan seorang figur masyarakat. Darimana datangnya kekecewaan itu?
 
Sebelum Aa Gym berpoligami, beliau memiliki ‘harapan peran’ sebagai seorang yang dianggap ‘suci’ oleh masyarakat. Namun masyarakat tidak sadar bahwa Aa Gym bukanlah malaikat. Mereka tidak mencari tahu apa sesungguhnya alasan Aa berbuat seperti itu? Tapi mereka telanjur menghakimi berdasarkan prasangka mereka. Apalagi mendapat dukungan kaum oportunis, juga media masa yang memancing di air keruh.
 
Sudah menjadi sifat dasar manusia memandang seorang publik figur seolah malaikat. Mereka menilai orangnya, bukan hikmah yang diajarkannya. Bagaimana dengan orang tua atau anak Anda? Apakah Anda masih menghargai dan menerima mereka, meski ‘menurut kita’, mereka berbuat nista? Mengapa tidak kita anggap seolah saudara kita? Ingat, benar menurut siapa, salah menurut siapa?

“Terimalah aku satu paket, bukan hanya sisi baiknya, namun sisi kurangnya juga. Aku hanyalah manusia, bukan makhluk tanpa dosa. Aku belajar dengan waktu bahwa manusia berubah dengan waktu dan kejadian-kejadian. Aku belajar dengan pengalaman, ternyata banyak prasangkaku yang keliru. Aku belajar dengan waktu, untuk memahami, bukan menghakimi.”


Penulis:
Jaya Setiabudi

Bob Williamson: Hampir Bunuh Diri Tapi Memilih Bangkit

Sukses bisnis kadang diraih melalui kombinasi antara kerja keras dan keberuntungan yang tampak sederhana. Salah satu yang mendapatkannya adalah Bob Williamson.Bob memang beruntung dan menjadi pengusaha hampir karena kecelakaan. Tapi sebenarnya ia berhasil karena memiliki semangat kuat untuk memperbaiki nasibnya yang salah arah di waktu muda.
 
Bob lahir dari seorang ayah tentara. Sejak kecil selalu berpindah-pindah tempat tinggal, begitupun sekolahnya. Karena sering pindah ia hampir tak punya sahabat. Selain itu jiwanya juga labil. Tukang bikin onar di sekolah atau di luar sekolah, suka berkelahi, dan sebagainya. Lalu godaan terjerumus ke dunia gelap tak bisa ditolak. Sejak remaja ia sudah jadi pemabuk dan pecandu narkoba.

Pada usia 19 tahun, Bob menikah dan usia 20 tahun bercerai. Ia memiliki anak. Ketika ingin menengok anaknya, mantan istrinya malah melaporkannya ke polisi yang membuatnya dipenjara. Kehidupannya makin buruk karena sekeluar dari penjara, ia kembali ke kebiasaan semula. Bahkan ia beberapa kali overdosis yang hampir merengut nyawanya.
Namun kehidupan buruk itu sering disesalinya. Ia merasa, jika terus-terusan seperti itu masa depannya akan hancur. Maka, pada saat usianya 24 tahun, ia pergi ke Atlanta untuk menata hidup baru. Sayangnya ia tak mudah mendapatkan pekerjaan.Bahkan ia sudah putus asa. “Saya bisa saja bunuh diri,” ujarnya.

Akhirnya ia mencoba menahan diri untuk tak jadi pecandu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mendapatkan pekerjaan sebagai pembersih batu bata bekas yang akan dijual lagi oleh pemilik usaha itu. Upahnya US$ 15 sehari; cukup untuk menyewa tempat tinggal dan bisa makan. Ia kemudian bahkan bisa menabung.

Suatu kali, ia bisa membeli mobil. Namun baru beberapa hari mengendarainya ia mengalami kecelakaan hebat yang hampir membuatnya tewas. Ia dirawat untuk beberapa waktu. Selama dirawat ia rajin membaca kitab suci. Dari sana, pelan-pelan semangat hidupnya tumbuh. Apalagi ia kemudian bertemu dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya, yang membuatnya makin terdorong untuk memperbaiki hidupnya.

Sekeluar dari rumah sakit, ia diterima di perusahaan cat Glidden sebagai tukang tempel label pada kaleng cat dan bekerja sehari penuh di basement yang mirip goa. Meski begitu ia menerimanya dengan sabar. Tekadnya untuk memperbaiki nasib sudah bulat. Sambil bekerja, dengan tekun ia juga banyak belajar dari ahli cat di perusahaan itu. Sikapnya yang baik membuat prestasi kerjanya juga baik dan beberapa kali mendapatkan promosi. “Dalam waktu dua tahun (di Glidden) saya mendapatkan promosi sebanyak delapan kali,” ujarnya.

Setelah dua tahun di Glidden, ia pindah ke dua perusahaan cat lain. Lalu ia menemukan sesuatu, bahwa para artis wildlife (pelukis yang menggambar kehidupan alam liar, hobi yang juga ia tekuni) umumnya menggunakan cat mobil untuk mendapatkan hasil lukisan yang sempurna. Tetapi itu tentu saja mahal. Bob kemudian terpikirkan untuk membuat cat lukis baru bagi mereka yaitu jenis airbrush. Karena itu, selama dua tahun, ia berkutat di rumahnya untuk membuat ramuan catnya. Tak lama, catnya jadi. Untuk memperkenalkannya ia ikut pameran dengan menyewa stan/booth sendiri. Ia juga beri nama perusahaannya sebagai Polytranspar. Ternyata banyak pelukis yang ingin membeli catnya. Selanjutnya, ia keliling Amerika untuk menawarkan cat produksinya ke berbagai pelukis. Lalu, ia berhenti dari tempatnya bekerja agar bisa konsentrasi mengembangkan bisnis sendiri. 

Pada tahun 1977, Bob mendirikan perusahaan cat Master Paint System. Sejak itulah bisnisnya menggelinding, makin lama makin besar dan makin banyak.Karena bisnisnya makin banyak, Bob mulai kebingungan mengelolanya. Pada awal 1980-an, ia mencoba membuat sistem pengelolaan bisnisnya mulai dari pengelolaan gudang, inventori barang, supply chain management dan sebagainya.

Bob ternyata jeli. Setelah para programernya membuat software manajemen untuk usahanya, ia juga menawarkan jasa pembuatan software sejenis pada banyak perusahaan. Dari sinilah ia mengembangkan bisnis software-nya. Meski sempat hampir bangkrut, Bob berhasil mengembangkan Horizon Software menjadi salah satu perusahaan software besar di Amerika sengan spesialisasi software pengelolaan kafetaria sekolah, barak-barak militer, rumah sakit, perguruan tinggi, dan sebagainya. Saat didirikan tahun 1992, Horizon baru mempekerjakanempat orang programmer. Sekarang perusahaan ini sudah memiliki hampir 180 karyawan. Omsetnya mencapai US$ 30 juta setahun atau sekitar Rp 270 miliar!

Jika dulu menuruti rasa putus asa ketika menghadapi kesulitan, mungkin Bob Williamson malah sudah tiada karena bunuh diri. Tetapi ia memilih bangkit dan bisa meraih kesuksesan besar! Luar Biasa!!